Kearifan Lokal Tiga Pilar Budaya Ngaos, Mamaos, Maenpo: Konstansi Negara, Pasar dan Identitas dalam Tradisi Lisan Masyarakat Cianjur/ Librilianti Kurnia Yuki
Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan dan menghasilkan sebuah referensi sebagai panduan peran dan keberlanjutan tiga pilar budaya Cianjur, yakni Ngaos, Mamaos dan Maenpo, dalam menghadapi dinamika sosial, politik, dan ekonomi di era modern. Tradisi lisan ini tidak hanya menjadi identitas kultural masyarakat Cianjur, tetapi juga menghadapi tantangan akibat modernisasi, globalisasi, serta perubahan budaya generasi muda. Menggunakan metode etnografi Spradley, penelitian ini menggali nilai-nilai budaya, fungsi sosial, dan strategi pelestarian melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta analisis domain, taksonomi, dan komponensial yang menghasilkan tema budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ngaos berperan dalam membangun religiusitas dan nilai-nilai moral masyarakat melalui kegiatan mengaji yang diwariskan secara turun-temurun. Mamaos, sebagai seni vokal khas Sunda, memiliki fungsi estetika dan sosial dalam memperkuat solidaritas komunitas melalui pertunjukan seni yang sarat akan makna filosofis. Sementara itu, Maenpo sebagai seni bela diri tradisional bukan hanya sekadar pertahanan diri, tetapi juga mengajarkan kedisiplinan, keseimbangan, dan ketahanan mental. Ketiga tradisi ini menghadapi tantangan dari arus budaya populer global serta komersialisasi yang menggeser nilai-nilai aslinya. Implikasi dari penelitian ini menggarisbawahi pentingnya peran negara, pasar dan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan Ngaos, Mamaos dan Maenpo. Pemerintah memiliki peran strategis dalam melindungi dan menginstitusionalisasi budaya lokal melalui kebijakan dan regulasi, sementara pasar dapat menjadi instrumen dalam mempromosikan budaya ini sebagai aset ekonomi berbasis komunitas. Partisipasi aktif generasi muda juga menjadi faktor kunci dalam menjaga relevansi dan eksistensi tradisi lisan ini dalam kehidupan modern. Oleh karena itu, penelitian ini merekomendasikan revitalisasi budaya melalui edukasi formal, pelibatan komunitas, digitalisasi warisan budaya, serta integrasi nilai-nilai kearifan lokal Tiga Pilar Budaya ke dalam program pembangunan daerah. Dengan strategi yang tepat, Ngaos, Mamaos dan Maenpo dapat terus berkembang dan menjadi identitas budaya yang kuat bagi masyarakat Cianjur di tengah arus globalisasi.
Kata Kunci: Etnografi, Identitas Budaya, Kearifan Lokal, Mamaos, Maenpo, Ngaos, Revitalisasi Budaya.
***
This research aims to create a reference as a guide for the role and sustainability of the three pillars of Cianjur culture, namely Ngaos, Mamaos and Maenpo, in facing social, political, and economic dynamics in the modern era. This oral tradition is not only the cultural identity of the Cianjur people, but also faces challenges due to modernisation, globalisation, and changes in the preferences of the younger generation. Using Spradley's ethnographic approach, this study explores cultural values, social functions, and preservation strategies through in-depth interviews, participatory observations, and domain, taxonomy, and component analysis. The study results show that Ngaos plays a role in building the community's religiosity and moral values through recitation activities inherited from generation to generation. Mamaos, as a typical Sundanese vocal art, has an aesthetic and social function in strengthening community solidarity through art performances that are full of philosophical meaning. Meanwhile, Maenpo as a traditional martial art is not only self-defence, but also teaches discipline, balance, and mental resilience. These three traditions face challenges from global popular culture currents as well as commercialisation that shifts their original values. The implications of this study underscore the importance of the role of the state, market and society in maintaining the sustainability of Ngaos, Mamaos, and Maenpo. Governments have a strategic role to play in protecting and institutionalising local culture through policies and regulations, while markets can be instrumental in promoting these cultures as community-based economic assets. The active participation of the younger generation is also a key factor in maintaining the relevance and existence of this oral tradition in modern life. Therefore, this study recommends cultural revitalisation through formal education, community involvement, digitalisation of cultural heritage, and integration of local wisdom values into regional development programs. With the right strategy, Ngaos, Mamaos, and Maenpo can continue to develop and become a strong cultural identity for the people of Cianjur amid globalisation.
Keywords: Ethnography, Cultural Identity, Local Wisdom, Mamaos, Maenpo, Ngaos,
Cultural Revitalisation
2025000157lib | LT/sin LIB 2025 | Perpustakaan Pascasarjana UNJ | Available |
Call Number
LT/sin LIB 2025
Publisher
Prodi Doktor Linguistik Terapan Pascasarjana UNJ :
Sekolah Pascasarjana UNJ.,
2025
Collation
98 hlm. :ilus ;21 cm
Statement of Responsibility
-
No other version available